Kasih Ibu

Kasih ibu,
kepada beta
tak terhingga sepanjang masa

Hanya memberi,
tak harap kembali,
Bagai sang surya, menyinari dunia.

*courtesy of LirikLaguIndonesia.net

Coba ambil mesin pencari, lalu jelajahi blog yang mengutip lagu itu. Isinya melulu puji-puji kepada sosok yang kemudian diidealisasikan begitu sempurna. Ibu.
Lalu ada pula lagu puji tentang Ibu buatan Iwan Fals.
Sesempurna itukah sosok ibu? Lalu ucapan-ucapan sesal seolah diri tak ada arti apa-apa atas dibanding kasih ibu yang tak terbatas. Betulkah?
Yalah, itu penyederhanaan. Apakah ibu memberikan kasihnya tanpa pamrih? Dorongan apa sebetulnya yang membuat ibu begitu saja mengorbankan banyak hal demi anaknya, buah hatinya? Lalu karena itu si anak berhutang budi yang tak akan mampu terbayarkan?

Baik mari kita lihat.

Iklan

Ateis

Apa yang akan terjadi padamu bila kamu mengaku bahwa kamu meyakini bahwa tuhan tidak ada? Apabila kamu hidup di Indonesia dan orang-orang terdekatmu adalah orang yang beragama, mulai dari pacar, teman, hingga orang tua akan mengajakmu berdebat. Cuma perdebatan, bukan sebuah diskusi yang akan melengkapi proses perenunganmu (apabila sebelum pengakuan itu kamu adalah orang yang mengikuti agama orang tuamu, taat pula). Inilah jenis pertanyaan yang akan ditujukan untukmu.

Satu, kamu akan ditanya “kenapa?” Seolah-olah kamu telah berbuat kesalahan.
“Apakah kamu mengalami semacam kekecewaan, lag, antara harapan dan kenyataan?” Point besarnya seperti itu.

Dua, kamu akan dituntut untuk membuktikan “kepercayaan baru”-mu itu. Mereka minta kamu untuk membuktikan bahwa tuhan tidak ada. Itu dengan harapan bahwa kamu akan kembali ke pangkuan agama mereka. Temanya tidak jauh dari Kausa Prima. “Siapa yang menciptakan kamu?”

Tiga, apabila kamu menunjukkan kenyataan bahwa perilaku orang beragama yang justru berperilaku tidak jujur, melanggar HAM dll, kamu akan didoktrin bahwa itu terjadi karena pemahaman yang salah, tidak ada yang salah dengan ajaran agama itu sendiri, meskipun kamu dengan jelas menguraikan beberapa ajaran yang menurutmu tidak sesuai.

Empat, kamu akan ditanya tentang siapa yang lantas kamu jadikan panutan dalam aturan tingkah lakumu seolah kamu akan segera bertindak tanpa batas, tanpa aturan. Kamu akan dituntut untuk menjelaskan konsep etika yang kamu pegang setelah kamu percaya bahwa tidak ada tuhan yang memberikan aturan (manual) dalam menjalani hidup. Aih… baru selesai berpikir metafisik tentang ketidakadaan tuhan, kamu dituntut untuk belajar cabang filsafat berikutnya: etika.

Lima, kamu akan dinasihati, sebagian akan mengatakan bahwa ia pernah melalui fase “keateisan” seperti yang kamu alami. LOL. Dan kamu diminta untuk melanjutkan prosesmu dalam usaha “menemukan” tuhan, asal kamu masih setia dengan hati nuranimu.

Masih banyak pertanyaan/komentar yang lain, apabila kamu menyatakan diri sebagai disbeliever di negeri ini.
Mau nambahin? silakan.


Derita

Siapa yang tak pernah mengalami penderitaan? Saya belum pernah bertemu dengan orang yang tidak pernah megalami penderitaan. Bagaimana cara orang menghadali penderitaan? Penderitaan yang saya maksud adalah segala kondisi yang tidak diinginkan untuk dialami.
Banyak cara yang ditawarkan dalam menghadapi penderitaan. Pertama, yang saya tahu yang dilakukan oleh manusia dalam menghadapi derita adalah dengan menyerahkan penderitaan itu pada suatu subyek yang adikuasa. Cara ini mengandaikan bahwa segala sesuatu merupakan kehendak dari suatu subyek yang Maha yang disebut dengan Tuhan.
Apakah cara ini bermanfaat? Saya kira iya. Penderitaan sering menghadirkan tanya, “Kenapa penderitaan ini hadir?” Kebiasaan manusia yang hidup dalam kerangka kausalitas (hukum sebab-akibat) mendorong pada pertanyaan mengenai asal-usul penderitaan, bahkan hingga tujuan dan maksud dari penderitaan. Tuhan yang hadir sebagai pribadi yang berkehendak dijadikan sebagai jawaban.
Versi fatalistik ini paling mudah saya pergunakan untuk menghibur teman. Pernyataan empati atas penderitaan yang dialami oleh kerabat atau teman paling mudah diikuti dengan pernyataan fatalistik “Pasti Tuhan akan memberikan yang terbaik bagimu”, atau “Tuhan tidak akan memberikan cobaan yang tak mampu ditanggung oleh umatNya”. Apakah deritanya akan terlipur dengan ungkapan semacam itu? Mudah-mudahan. Meskipun kadang berakhir dalam upaya menggugat Tuhan.
Cara yang kedua adalah dengan mengakui bahwa penderitaan adalah keniscayaan, semua akan mengalami, dalam bentuk atau intensitas yang beragam. Sabbe sankara annica dalam Bahasa Pali, segala yang memiliki kondisi pasti tidak kekal. Sejajar artinya dengan innalillahi wa inna ilaihi rojiun dalam Bahasa Arab semua yang berasal dari Allah akan kembali kepada Allah, kalau kita artikan Allah sebagai Ketiadaan (Suwung). Bahwa begitulah hidup, ada penderitaan, ada sukacita, ada nestapa, ada bahagia. Sebagai sesuatu yang hidup kita akan mati, begitu saja. Akui saja penderitaan sebagai bagian dari kehidupan, tidak perlu menambah beban derita dengan kekecewaan atas penderitaan itu sendiri. Kebanyakan manusia dalam menghadapi penderitaan mengalami masalah dua kali, pertama derita itu sendiri, yang sakit gigi misalnya, yang kemudian diikuti oleh masalah berikutnya yang muncul karena kecewa pada kondisi sakit gigi tersebut. Jengkel, marah, menyesali kelalaian karena tidak membersihkan gigi, atau jengkel dengan gigi sendiri yang meski sudah rajit dibersihkan tapi tetap sering sakit. Cara kedua menawarkan konsep penerimaan (afirmasi) terhadap rasa sakit, terhadap penderitaan. Sederhana, begitu saja.
Cara mana yang anda lebih sukai? Saya kira itu hanya soal selera. Silakan saja memilih.


kopi luwak

Sulit untuk masuk ke nalarku, harga kopi sisa kotoran luwak yang selangit itu. Seperti apakah rasanya? Penasaran ingin nyoba, sampai akhirnya bossku ngasih! Wow!
Satu kemasan, isinya 250 gr. Harganya Rp. 600rb wew!
Melampaui harga SPPku satu semester waktu kuliah dulu.
Enakkah rasanya? Mungkin karena tersugesti oleh harganya, ehm… Enak.
Sayang juga sih, duit segitu cuma buat kopi. Kudengar di cafe-cafe, harganya secangkir bisa hingga seratusan ribu. Kalo duit untuk kopi itu dipergunakan untuk hal lain yang lebih bermanfaat, apa ya?

Wis ah, ora lucu. Tutup wae.


polisi lagi

“Mas, tahu apa salah sampean?”

“Ya tahu, Pak.”

“Apa?”

“Saya ndak lihat sampean, Pak.”


tag code

norak abis…

baru bisa bikin kayak begini sekarang…
😀
nampilin hasil koding.

<a href="http://notwelldefined.site50.net/" target="_blank"> </a>

function wp_syntax_head()
{
  $css_url = get_bloginfo("wpurl") . "/wp-content/plugins/wp-syntax/wp-syntax.css";
  if (file_exists(TEMPLATEPATH . "/wp-syntax.css"))
  {
    $css_url = get_bloginfo("template_url") . "/wp-syntax.css";
  }
  echo "\n".''."\n";
}

ngetest latex

x=2
\frac {4x}{cos x + a}
\frac{dW}{dt}=\frac{{{t}^{2}}}{a}

Nyoba dengan R

> x  rep(8, length(x))
[1] 8 8 8 8 8 8

Melayani dan melindungi masyarakat

itulah jargon kepolisian kita.

sekedar cerita.

tanggal 8 september kemaren, kali pertama aku naik bawa sepeda motor dari rumah di bekasi ke kantor. agak keder juga sebetulnya. aku biasa naik bis, sama sekali gak pernah ngapalin jalan. naik bis, baca novel 1 halaman, terus tahu-tahu dah sampai… 😀 bermodal ingetan dari membaca peta, membuat oleat dari jalan di mulut gang sampai jalan di depan kantor.

greng… setengah tujuh pagi, aku jalan. Si pipit memulai petualangannya…

lewat kalimalang, aku masih nurut sama oleat yang aku buat. ikuti terus sampai mentok di pertigaan bypass (DI Panjaitan).

glek… ternyata… tidak kebayang sebelumnya. macet parah di setiap persimpangan jalan di sepanjang jalan kalimalang tersebut. dari sekian banyaknya persimpangan, sekali saja aku lihat ada petugas, polisi yang mengatur lalulintas yang berjubel-jubel berusaha keluar seperti tai yang berusaha untuk segera keluar dari perut kita di hari saat kita sedang kebelet…

masuk jalan DI Panjaitan. huf… lega. seperti habis boker setelah seminggu kagak boker. tidak terlalu berdesakan.

merujuk pada ingetan oleatku. simpangan ke dua sebelah kiri di adalah simpangan jalan menuju ke kampung melayu. satu lewat, dua… aduh. sompret. kelewat. grrrrr!!!!

sampai di mana nih… oleatku gak memuat kemungkin aku kebablasan begini… masak iya aku kudu buka laptop buat buka peta lagi.

ok deh, aku coba ikutin papan-papan arah yang ada di jalan. berputar di Jatinegara, lalu kembali ke kampung melayu. nanti belok kanan kupikir. bener, ada orang yang belok kanan. aku ikut belok kanan. waks… ada dua orang polisi. satu suruh perempuan di sepeda motor di depan untuk berhenti, satu petugas menyuruhku berhenti.

“selamat pagi, dik. ada sim?”

aku tunjukan sim, diambilnya sim ku. lalu diajaknya aku ke dalam warung yang ada di dekat terminal Kampung Melayu.

“Kamu salah, sepeda motor tidak boleh masuk ke dalam terminal.”

“Lho, pak. tidak ada rambu larangannya.”

“Iya, gak boleh.”

😕

“Jadi, nanti tanggal 19, kamu sidang ya.”

“”Duh Pak. saya baru saja habis tersesat, saya tidak tahu kalo sepeda motor boleh lewat, lagian tidak ada larangannya kok di sana.” Aku ngeyel.

“Tidak boleh. Sepeda motor tidak boleh masuk terminal.”

“Wah…”

“Jadi nanti tanggal 19, bisa sidang ya..?”

“Iya deh. mungkin bisa pak.”

Dia menulis sesuatu di lembaran surat tilang. Setelah kelihatan selesai, dia bertanya.

“Kalau nanti mungkin tidak bisa sidang, apa mau nitip?”

“Apa maksudnya nitip?”

“Nitip, seperti ini.” Dia menunjukkan lembaran uang yang ditempelkan di lembaran-lembaran surat tilang. Biar kamu tidak perlu ikut sidang.

O… rupanya minta disuap.

“Nitip berapa?” aku tanya.

“Kalo nitip, 40 ribu.”

“Wah, mahal sekali pak. 20 ribu saja.”

“Tidak.”

“Kalau tidak 20 ribu, saya sidang saja.”

“Baiklah, 30 ribu.”

Huh!

Jadilah transaksi haram itu terjadi. Orang kagak tahu terus tersesat salah jalur yo musti dipalak sie…?

Cerita kedua,

sekitar di akhir tahun 2006. waktu itu kira-kira seminggu setelah kenaikan harga BBM. aku salah jalur lagi. berpatokan pada oleat peta yang kubuat, peta yang tidak terlalu detail. tidak kelihatan jalur-jalur (putaran-putaran) di persimpangan jalan). ini lebih konyol. aku kebingungan di perempatan di bawah Tugu Pancoran, diam sendirian. bingung gimana caranya ambil ke kanan. kok di jalur sebelah kanan malah ada panah ke Tebet. Ada segerombolan polisi di sebelah kanan. aku bermaksud mau nanya, eh malah dipanggil. ya sudah, aku samperin aja sekalian. eh kok malah dia ngeluarin surat tilang.

sompret. tawar menawar akhirnya. kukeluarkan saja semua uang yang ada di saku celanaku.

“nih pak. uangku cuma 4ribu perak. mau?”

“wah… masak kamu bawa motor cuma bawa uang 4ribu perak?”

“BBM naek pak. tadi sie saya bawa 20 ribu, tapi dah habis 16ribu buat beli bensin.”

“Ya sudah, sini.”

“Yah… pak, kok diminta juga. gimana nanti kalo ban motorku kempes dan bocor?”

“Nanti pinjam dulu sama temanmu.” katanya sambil ngantongin duitku yang 4ribu perak itu…

hahahaha.. perlu dicatat tuh… sebagai rekor menyuap petugas polantas paling murah di tahun 2006.

dua cerita itu, tidak membuktikan apapun terkait dengan penilaianku terhadap kepolisian khususnya polantas. di beberapa tempat aku masih sering melihat mereka betul-betul melayani masyarakat. tapi gak usah aku ceritain.

soalnya…

aku lagi sebel sekarang gara-gara ditangkep sama pulisi gara-gara gak tahu jalan.