Melayani dan melindungi masyarakat

itulah jargon kepolisian kita.

sekedar cerita.

tanggal 8 september kemaren, kali pertama aku naik bawa sepeda motor dari rumah di bekasi ke kantor. agak keder juga sebetulnya. aku biasa naik bis, sama sekali gak pernah ngapalin jalan. naik bis, baca novel 1 halaman, terus tahu-tahu dah sampai… šŸ˜€ bermodal ingetan dari membaca peta, membuat oleat dari jalan di mulut gang sampai jalan di depan kantor.

greng… setengah tujuh pagi, aku jalan. Si pipit memulai petualangannya…

lewat kalimalang, aku masih nurut sama oleat yang aku buat. ikuti terus sampai mentok di pertigaan bypass (DI Panjaitan).

glek… ternyata… tidak kebayang sebelumnya. macet parah di setiap persimpangan jalan di sepanjang jalan kalimalang tersebut. dari sekian banyaknya persimpangan, sekali saja aku lihat ada petugas, polisi yang mengatur lalulintas yang berjubel-jubel berusaha keluar seperti tai yang berusaha untuk segera keluar dari perut kita di hari saat kita sedang kebelet…

masuk jalan DI Panjaitan. huf… lega. seperti habis boker setelah seminggu kagak boker. tidak terlalu berdesakan.

merujuk pada ingetan oleatku. simpangan ke dua sebelah kiri di adalah simpangan jalan menuju ke kampung melayu. satu lewat, dua… aduh. sompret. kelewat. grrrrr!!!!

sampai di mana nih… oleatku gak memuat kemungkin aku kebablasan begini… masak iya aku kudu buka laptop buat buka peta lagi.

ok deh, aku coba ikutin papan-papan arah yang ada di jalan. berputar di Jatinegara, lalu kembali ke kampung melayu. nanti belok kanan kupikir. bener, ada orang yang belok kanan. aku ikut belok kanan. waks… ada dua orang polisi. satu suruh perempuan di sepeda motor di depan untuk berhenti, satu petugas menyuruhku berhenti.

“selamat pagi, dik. ada sim?”

aku tunjukan sim, diambilnya sim ku. lalu diajaknya aku ke dalam warung yang ada di dekat terminal Kampung Melayu.

“Kamu salah, sepeda motor tidak boleh masuk ke dalam terminal.”

“Lho, pak. tidak ada rambu larangannya.”

“Iya, gak boleh.”

šŸ˜•

“Jadi, nanti tanggal 19, kamu sidang ya.”

“”Duh Pak. saya baru saja habis tersesat, saya tidak tahu kalo sepeda motor boleh lewat, lagian tidak ada larangannya kok di sana.” Aku ngeyel.

“Tidak boleh. Sepeda motor tidak boleh masuk terminal.”

“Wah…”

“Jadi nanti tanggal 19, bisa sidang ya..?”

“Iya deh. mungkin bisa pak.”

Dia menulis sesuatu di lembaran surat tilang. Setelah kelihatan selesai, dia bertanya.

“Kalau nanti mungkin tidak bisa sidang, apa mau nitip?”

“Apa maksudnya nitip?”

“Nitip, seperti ini.” Dia menunjukkan lembaran uang yang ditempelkan di lembaran-lembaran surat tilang. Biar kamu tidak perlu ikut sidang.

O… rupanya minta disuap.

“Nitip berapa?” aku tanya.

“Kalo nitip, 40 ribu.”

“Wah, mahal sekali pak. 20 ribu saja.”

“Tidak.”

“Kalau tidak 20 ribu, saya sidang saja.”

“Baiklah, 30 ribu.”

Huh!

Jadilah transaksi haram itu terjadi. Orang kagak tahu terus tersesat salah jalur yo musti dipalak sie…?

Cerita kedua,

sekitar di akhir tahun 2006. waktu itu kira-kira seminggu setelah kenaikan harga BBM. aku salah jalur lagi. berpatokan pada oleat peta yang kubuat, peta yang tidak terlalu detail. tidak kelihatan jalur-jalur (putaran-putaran) di persimpangan jalan). ini lebih konyol. aku kebingungan di perempatan di bawah Tugu Pancoran, diam sendirian. bingung gimana caranya ambil ke kanan. kok di jalur sebelah kanan malah ada panah ke Tebet. Ada segerombolan polisi di sebelah kanan. aku bermaksud mau nanya, eh malah dipanggil. ya sudah, aku samperin aja sekalian. eh kok malah dia ngeluarin surat tilang.

sompret. tawar menawar akhirnya. kukeluarkan saja semua uang yang ada di saku celanaku.

“nih pak. uangku cuma 4ribu perak. mau?”

“wah… masak kamu bawa motor cuma bawa uang 4ribu perak?”

“BBM naek pak. tadi sie saya bawa 20 ribu, tapi dah habis 16ribu buat beli bensin.”

“Ya sudah, sini.”

“Yah… pak, kok diminta juga. gimana nanti kalo ban motorku kempes dan bocor?”

“Nanti pinjam dulu sama temanmu.” katanya sambil ngantongin duitku yang 4ribu perak itu…

hahahaha.. perlu dicatat tuh… sebagai rekor menyuap petugas polantas paling murah di tahun 2006.

dua cerita itu, tidak membuktikan apapun terkait dengan penilaianku terhadap kepolisian khususnya polantas. di beberapa tempat aku masih sering melihat mereka betul-betul melayani masyarakat. tapi gak usah aku ceritain.

soalnya…

aku lagi sebel sekarang gara-gara ditangkep sama pulisi gara-gara gak tahu jalan.

Iklan

One response to “Melayani dan melindungi masyarakat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: