Monthly Archives: April 2011

Derita

Siapa yang tak pernah mengalami penderitaan? Saya belum pernah bertemu dengan orang yang tidak pernah megalami penderitaan. Bagaimana cara orang menghadali penderitaan? Penderitaan yang saya maksud adalah segala kondisi yang tidak diinginkan untuk dialami.
Banyak cara yang ditawarkan dalam menghadapi penderitaan. Pertama, yang saya tahu yang dilakukan oleh manusia dalam menghadapi derita adalah dengan menyerahkan penderitaan itu pada suatu subyek yang adikuasa. Cara ini mengandaikan bahwa segala sesuatu merupakan kehendak dari suatu subyek yang Maha yang disebut dengan Tuhan.
Apakah cara ini bermanfaat? Saya kira iya. Penderitaan sering menghadirkan tanya, “Kenapa penderitaan ini hadir?” Kebiasaan manusia yang hidup dalam kerangka kausalitas (hukum sebab-akibat) mendorong pada pertanyaan mengenai asal-usul penderitaan, bahkan hingga tujuan dan maksud dari penderitaan. Tuhan yang hadir sebagai pribadi yang berkehendak dijadikan sebagai jawaban.
Versi fatalistik ini paling mudah saya pergunakan untuk menghibur teman. Pernyataan empati atas penderitaan yang dialami oleh kerabat atau teman paling mudah diikuti dengan pernyataan fatalistik “Pasti Tuhan akan memberikan yang terbaik bagimu”, atau “Tuhan tidak akan memberikan cobaan yang tak mampu ditanggung oleh umatNya”. Apakah deritanya akan terlipur dengan ungkapan semacam itu? Mudah-mudahan. Meskipun kadang berakhir dalam upaya menggugat Tuhan.
Cara yang kedua adalah dengan mengakui bahwa penderitaan adalah keniscayaan, semua akan mengalami, dalam bentuk atau intensitas yang beragam. Sabbe sankara annica dalam Bahasa Pali, segala yang memiliki kondisi pasti tidak kekal. Sejajar artinya dengan innalillahi wa inna ilaihi rojiun dalam Bahasa Arab semua yang berasal dari Allah akan kembali kepada Allah, kalau kita artikan Allah sebagai Ketiadaan (Suwung). Bahwa begitulah hidup, ada penderitaan, ada sukacita, ada nestapa, ada bahagia. Sebagai sesuatu yang hidup kita akan mati, begitu saja. Akui saja penderitaan sebagai bagian dari kehidupan, tidak perlu menambah beban derita dengan kekecewaan atas penderitaan itu sendiri. Kebanyakan manusia dalam menghadapi penderitaan mengalami masalah dua kali, pertama derita itu sendiri, yang sakit gigi misalnya, yang kemudian diikuti oleh masalah berikutnya yang muncul karena kecewa pada kondisi sakit gigi tersebut. Jengkel, marah, menyesali kelalaian karena tidak membersihkan gigi, atau jengkel dengan gigi sendiri yang meski sudah rajit dibersihkan tapi tetap sering sakit. Cara kedua menawarkan konsep penerimaan (afirmasi) terhadap rasa sakit, terhadap penderitaan. Sederhana, begitu saja.
Cara mana yang anda lebih sukai? Saya kira itu hanya soal selera. Silakan saja memilih.

Iklan